“You are my little star, you are my little angel…” bisikku di telinganya.
“Ummi.. aku sayang Ummi” balasnya sambil bergelayut manja di leherku. Kami lalu tertawa bersama. Sementara layar TV masih memainkan lagu-lagu kesenangannya. Dan tiba-tiba “Brakkkk…!” suara benda yang dilempar dengan kekuatan yang berlebihan membuyarkan canda kami. Refleks kami menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang perempuan berkacakpinggang di antara serpihan vas bunga yang barusan dibantingnya.
“Sedang apa kalian?” Gelegar suaranya bercampur amarah. Telunjuknya langsung menuding padaku
“Apa kamu sudah lupa, aku melarangmu duduk disofa ini!?”
Buru-buru aku bangkit, Yen-yen mengkeret takut di pelukanku.
“Yan-yan, turun!!” bentaknya. Tapi anak itu makin erat memeluk leherku. Lalu dengan gerakan kasar dia merenggut Yen-yen dari tanganku. Tangisnya langsung pecah seketika, saat perempuan itu berhasil merebutnya dari pelukanku.
“Diam…, kamu tahu nenek tidak suka kamu dekat-dekat dengan perempuan itu? Dia itu bukan ibumu, dia itu pembantu!” Setengah berteriak dia menumpahkan kekesalannya pada Yan-yan, bocah kecil yang baru berumur tiga tahun, yang sedang ketakutan melihat amarah di mata perempuan yang menyebut dirinya sendiri nenek.
“Dan kamu perempuan bodoh, sudah ribuan kali aku bilang padamu, jangan kamu peluk-peluk cucuku seperti itu, apalagi kau ajarkan dia untuk membenciku. Aku neneknya, aku ibu dari ibunya, aku lebih berhak atasnya!” Makian disertai bentakan keras membuat Yan-yan menangis semakin histeris.
“Tetap berdiri dan tunggu aku di situ, aku belum selesai” Bentaknya sekali lagi sebelum menghilang masuk ke kamar majikanku.
Aku berdiri kaku ditempatku. Tangis Yan-yan belum mereda, bahkan semakin keras, aku tahu, dia tidak akan berhenti menangis sampai aku datang kepadanya. Aku yang merawatnya sejak dia lahir, tidak ada satu malam pun yang terlewat dari dekapanku. Dia yang hanya melihat ibunya dipagi hari. Dia yang baru mengenal neneknya enam bulan terakhir ini. Baginya, cuma aku temannya, pelayannya, bahkan ibunya. Maka aku suruh dia memanggilku Ummi. Dan bagiku, dia penjelmaan anakku yang tidak sempat terlahir, muara kasih sayangku. Padanya segala hasrat keibuanku kusalurkan, aku mencintainya lebih dari diriku sendiri. Dadaku remuk mendengar tangisannya, aku tidak rela belahan jiwaku dibentak-bentak sekalipun oleh orang yang mengaku mempunyai ikatan darah dengannya. Dan nenek tua itu tetap mengoceh sambil berteriak-teriak menyuruh Yan-yan menghentikan tangisnya. Kugigit bibirku kuat-kuat menahan gejolak amarah. Aku harus tetap berdiri disini, kalau aku tidak ingin membuat nenek itu semakin kalap. Dan aku membenci ketidakberdayaanku. Aku tidak bisa menolong orang yang paling kucintai di dunia ini.
Suara pintu terbuka, nenek tua berjalan murka kearah ku, tangannya mengepal menggenggam amarah, jarak satu langkah padaku, kepalan tinjunya melayang kepipiku, aku terjejer mundur. Aku tidak merasakan sakit, seluruh rasaku tertuju pada ruang kamar dimana Yan-yan menangis menjerit-jerit dan terkunci. Nenek tua itu siap melayangkan tinjunya yang kedua. Aku cepat bersimpuh memeluk kakinya.
“ Nyonya, ijinkan aku masuk ke kamar, Yan-yan paling takut sendirian dikamar, apalagi terkunci..” hibaku memohon.
“ Tidak akan pernah ku ijin kan, kau yang membuat cucu ku manja, tidak menghargai aku neneknya, kau yang telah meracuninya setiap hari..” bentaknya sambil mencoba menendang-nendangkan kakinya, mencoba melepaskan diri dari pelukanku.
“Nyonya aku mohooon… tolong biarkan Yan-yan keluar, aku yang salah, hukum aku saja, tidakkah kau kasihan mendengar tangisannya..” aku sudah tidak bisa menahan air mataku, hibaku kini disertai isak.
“Aku sudah tidak ingin menghukummu. Kau kumpulkan barang-barangmu dan pergi sekarang juga dari rumah anakku!” Dalam satu hentakan dia menjambak rambutku, menyeretku keluar rumah.
“ Disitu tempatmu sampah! Jangan pernah kau injakkan kakimu lagi dirumah ini!” bentaknya dengan mata melotot penuh dendam.
“Nyonya, jangan.. tunggu.. Yan-yan masih menangis, biar kuredakan dulu tangisnya, dan aku akan pergi” tanganku reflex menahan pintu yang setengah tertutup
“Cukup..!!” teriaknya nyalang “Kamu pikir Cuma kamu yang bisa merawat dia, Cuma kamu yang bisa membuatnya berhenti menangis..!!” satu dorongan kuat membuatku jatuh tersungkur, dan bedebam pintu meluluhkan semua rasaku. Yan-yan, maafkan ummi..
Terduduk aku bersimpuh didepan pintu, mataku tidak berkedip menatap, berharap ia terbuka, dan Yan-yan berlari kearahku, menghapus air mata ini dengan jari-jari mungilnya. Ah betapa anak itu bukan terlahir dari rahimku, tapi dia adalah belahan jiwaku. Air mata yang sejak tadi mengburkan pandanganku, tapi tidak akan pernah mengaburkan ingatanku saat pertama kali aku menggendongnya. Bayi mungil yang kelahirannya hanya ditunggui aku, karena neneknya tidak menginginkan bayi itu menghirup udara pengap ditempat yang humiditynya paling tinggi didunia. Lalu sang ayah yang hanya dikenal semalam oleh ibunya tidak pernah mengetahui kalau hari itu putri cantiknya terlahir sehat.
***
Aku mengulang kejadian tiga tahun lalu, ditempat aku terduduk sekarang. Saat orang suruhan dari kantor penyalur pekerja rumah tangga asing mengantarku ke tempat ini. Setelah memencet bel berulang kali dan tidak ada jawaban, dia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan telpon genggam untuk kemudian menghubungi nomor yang tertera diamplop yang dipegangnya. Setelah tersambung, dia lalu berbicara dalam bahasa kantonis yang hanya satu dua kata kufahami artinya.
“ kamu tunggu disini, setengah jam lagi majikan kamu datang, dia sedang didokter periksa kandungannya.” Aku hanya mengangguk diam.
“ Jangan pergi kemana-mana, jangan kabur, polisi HongKong akan menjebloskan kamu ke penjara kalo kamu kabur! Keluargamu akan masuk penjara juga di Indo!” ancamnya galak. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tak perduli. Mau kabur kemana pikirku, uang yang ada disaku celana jeansku hanya ada salembar uang 10 ribuan sisa bekalku kemarin di penampungan. Dan yang terpenting, bayi.. calon bayi majikanku yang aku pikirkan. Teringat bagaimana susahnya aku meyakinkan orang PT, bahwa aku, walaupun belum punya pengalaman merawat bayi akan sanggup melakukan pekerjaan ini. Beberapa kali mereka menawarkan job menjaga orang jompo padaku, dan selalu ku tolak. Aku sanggup tinggal berapa lamapun di penampungan, asal aku dapat job merawat bayi. Dengan resiko dimaki-maki oleh orang PT yang menyebutku pilih-pilih job. Aku tidak peduli. Bukan uang yang ku mau. Aku masih bisa mencari nafkah dikampungku sendiri, kalau aku hanya uang yang ku kejar. Aku hanya ingin pergi jauh meninggalkan perih. Menghapus jejak kotor tapak masa lalu. Dan aku merindukan bayi, anak, yang tidak akan mungkin dapat ku lahirkan dari rahimku sendiri. Setelah semuanya kandas dimeja operasi ketika dokter mengangkat rahimku karena kangker yang bersarang didalamnya.
Setelah hampir satu jam menunggu, seorang wanita muda yang tengah hamil tua menghampiriku, buru-buru aku bangkit
“ Hallo, sorry make you waiting for such a long time” sapanya ramah.
“ no. ma’am, never mind” jawabku singkat
“ so, what is your name?” tanyanya sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.
“My name is Dewi” tanganku menyambut uluran tangannya. Kami lalu masuk. Apartemen berukuran 650 meter persegi itu terlihat berantakan. Agak rikuh dia menyuruhku duduk di sebuah sofa yang penuh dengan aneka barang. Tangannya tidak berhenti membenahi ruangan. Melihatnya sibuk sendiri segera aku turun tangan, walaupun agak sungkan, takut barang-barang itu terlalu pribadi. Menjelang senja, apartemen mungil itu sudah layak menjadi tempat tinggal manusia lagi. Janice, majikan baruku itu berkali-kali memuji keterampilanku dalam membenahi rumah.
“ Bayi ini akan lahir 2 minggu lagi, tadi dokter bilang begitu” katanya sambil mengelus-ngelus perut buncitnya. Ada terselip iri dihatiku, mengingat 2 kali aku pernah hamil tapi tidak pernah sampai sebesar itu, karena selalu gugur sebelum sempat terlahir.
Masa adaptasiku dengan Janice kulalui dengan mudah, Janice yang periang dan sifat kekanak-kanakannya masih tampak jelas.
“Aku bertemu dengan ayah bayi ku ini disebuah bar, dia pria dewasa yang sangat mengesankan, tampan. Aku harap anakku nanti juga cantik.” Cerita Janice disuatu malam ketika kami sedang menonton televisi.
“kenapa kamu tidak memberitahu lelaki itu, kalau kamu mengandung anaknya?” mendengar pertanyaanku, Janice tetawa terbahak-bahak
“ I don't even Know his name..” katanya disela-sela tawa. Aku tidak ikut tertawa, bagi itu suatu hal yang sangat aneh, bagaimana mungkin orang yang baru pertama kali bertemu, bisa langsung melakukan perbuatan seintim itu. Suamiku dulu harus mendekatiku berbulan-bulan hanya untuk mengajakku keluar, bukannya aku jual mahal, tapi rasa tidak percaya diri membuatku menutup pintu untuk urusan asmara. Aku yang tidak pernah mengenal siapa orang tua kandungku, hidup dan besar dipanti asuhan sampai aku bertemu dengan pasangan suami istri Rahmat yang membawaku keluar dari panti. Mereka mempunyai sebuah kantin dikawasan sebuah universitas di Bandung. Disitu aku bertemu Andy, suamiku, mahasiswa fakultas hukum tingkat akhir, anak seorang priyayi dari Tasikmalaya.
Tak banyak yang Janice ceritakan tentang ayah bayinya, sesingkat pertemuan yang mereka alami.
“Kamu tau, mommy berulangkali menyuruh menggugurkan kandunganku. Saat itu semua document untuk pergi ke Italy sudah lengkap. She just like a dying to send me there..” aku menghela nafas tertahan mendengarnya mengatakan mengugurkan kandungan.
“ Tapi aku menolak, dalam bayanganku, aku akan menikmati saat-saat hamil dan melahirkan nanti. Aku akan punya anak, dan kami akan bergembira bersama.” Aku iri melihat binar dimatanya, membayangkan kebahagian bersama anaknya nanti, lalu lanjutnya
“Sekolah mode, siapa yang peduli, aku punya bakat yang bagus di disainer baju, aku masih muda, dan aku bisa mengembangakan bakatku dengan banyak cara, tanpa harus sekolah ke Italy, dan yang terpenting anak ini” katanya sambil mengelus-elus perutnya.
“Lalu apa yang mommy-mu lakukan, saat kamu tidak menuruti keinginannya?” tanyaku. Dia tersenyum sebelum menjawab
“ sampailah aku di flat ini, mommy mengusirku dari rumah megahnya. Flat ini milik daddy sebelum dia pindah ke Kanada.” Perbincangan kami selesai sampai disitu, detik berikutnya kepanikan melanda kami berdua, cairan ketuban Janice pecah, saat-saatmelahirkan sudah tiba. Aku masih bisa merasakan dengan jelas saat-saat menegangkan itu, panic, tegang, ketakutan berbaur menjadi satu, lalu datang ambulan,rumah sakit.. semua masih terekam jelas dimemori ku. Lalu malaikat kecil itu terlahir, suster menyerahkanya padaku sesaat sebelum dia membawanya ke ruang khusus bayi, setelah dia tidak berhasil menemukan keluarga yang lain selain aku. Dalam dekapanku, bayi mungil itu mengeliat rapuh, kucium dahinya, kubawa bibirku ketelinga kanannya, syahdu kubisikan adzan,
“malaikat kecilku… tumbuhlah engkau menjadi penerang buat gelap disekelillingmu..”
Dua hari kemudian, dokter sudah memperbolehkan kami pulang. Hanya ada satu kartu ucapan selamat yang datang dari Kanada. Tidak ada upacara penyambutan bayi, karena hanya kami bertiga. Neneknya tidak sedetikpun menengok, walaupun Janice meneleponnya, sehari setelah bayi itu lahir. Janice manamai bayinya Chan Wing Yan, Chan adalah namakeluarganya, wing berarti Pintar dan Yan berarti elegan. Kami memanggilnya Yan-yan. Yan-yan tidur sekamar denganku, agar Janice bisa leluasa beristirahat. Posisinya sebagai wakit redaktur sebuah majalah mode memuatnya sering bekerja hingga larut malam. Dan Yan-yan adalah bayi yang sangat manis,dia rupanya mengerti, bahwa dia tidak bisa bermaja pada banyak orang seperti bayi-bayi lain dalam keluarga utuh.
***
Kehidupan berjalan normal dan menyenangkan, Yan-yan tumbuh menjadi malaikat kecil bagi aku dan Janice, dia memiliki semua do’a dari namanya, periang, pintar dan kritis. Janice juga tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai majikanku, gaji, hak libur juga hak-hak ku yang lainya dirumah itu. Tapi untuk libur aku memang tidak pernah menginginkannya, bagiku duniaku adalah Yan-yan. Tiga tahun aku, Janice dan Yan-yan menghadapi hidup ini dengan nyaman, sampai enam bulan lalu, saat Ny. Chan begitu aku memanggil perempuan yang dipanggil mommy oleh Janice itu hadir di kehidupan kami. Mulanya semua masih tetap sama, aku bersyukur saat Ny.chan datang, Yan-yan memiliki nenek sekarang, paling tidak kehadiran Ny. Chan menambah deretan orang yang sayang pada Yan-yan. dua minggu setelah kedatangan nya semua mulai berubah, dia mulai banyak mengaturku, tidak ada satupun pekerjaanku yang benar dimatanya. Caci makinya mulai terdengar setiap saat, tapi aku tidak perduli, toh dia hanya datang beberapa kali dalam seminggu. Suatu saat Yan-yan mendatangiku ke dapur saat aku tengah menyiapkan makan malam,
“Kung yan, nenek minta dibuatkan teh” seru Yan-yan padaku, aku terkejut mendengar ucapan yang baru pertama kali ini aku dengar. Tapi buru-buru aku tepis pikiran buruk yang mulai merambat dikepalaku.
“magic words..?” pintaku sambil jongkok memegang pundaknya
“ Grany said, I’m not allow to say Thank you or please to you, and she ask me to call you “kung Yan” not ummi.” Jawabnya polos. Aku tersentak, ada luka menyayat dihatiku. Aku coba mencari ketenangan dimata Yan-yan, benarkah dia ingin melakukannya, atau hanya menuruti perintah neneknya, ahhh mata itu masih tetap sama, tidak ada yang berubah, leganya hatiku. aku tau Yan-yan mencintaiku juga. Aku lalu tersenyum pada Yan-yan,
“ kembali pada nenek, bilang tehnya siap dalam 3 menit” kataku sambil menjawil pipinya gemas.
Ny. Chan memang memperlihatkan dengan jelas ketidak sukaannya melihatku terlalu akrab pada Yan-yan dan Janice. Tapi Janice selalu membesarkan hatiku, bahwa itu semua memang sifat ibunya, dan tidak akan mempengaruhi sikap Janice padaku. Dua bulan berjalan, masih dalam kondisi normal hingga pada suatu pagi Janice ribut menanyakan gaun barunya yang dia beli minggu lalu.
“Dewi.., kamu lihat baju baruku tidak, yang warna biru itu?” “loh bukannya kamu bawa kembali ke butik untuk diperbaiki?” jawabku.
“Tapikan aku sudah menyuruhmu untuk mengambilnya, dua hari lalu, kamu lupa?” tanya lagi sedikit membentak,
“Aku tidak lupa, tapi kamu memang tidak menyuruhku, notanya saja tidak kupegang” jawabku mencoba menjelaskan.
“Kamu sekarang berani ya menjawab, sudah tahu kamu yang salah! Apa saja kerjamu sepanjang hari? Semakin hari kamu semakin malas saja!” aku mulai melihat kemarahan yang besar dimatanya, dan aku tidak mengerti kenapa bisa semarah itu, dan ini pertama kalinya dia marah padaku. Dan puncaknya, tiga malam lalu, Janice pulang terlambat dalam keadaan mabuk, seperti biasa, aku membimbingnya masuk ke kamar, membuka sepatu bootnya, ketika aku hendak mengelap wajahnya dengan handuk hangat, dia menepis tanganku
“ Cukup, tidak usah kamu berlaga baik padaku, aku bukan bayi, aku bisa melakukannya sendiri!” ujarnya ketus.
“ Biarlah kubantu kamu ganti pakaian, kamu tidak akan nyaman tidur dengan baju seperti itu!” kataku sambil menyodorkan gaun tidurnya. Sekali lagi dia menampik uluran tanganku.
“Tidak cukup kah mommy saja yang selalu menganggap aku anak kecil, aku sudah dewasa, aku bisa mengurus diriku sendiri!” bentaknya menhentak keheningan malam. Aku tersurut mundur
“Dan kamu, kamu ingin mengambil Yan-yan dariku kan? Kamu selalu bertindak sebagai ibunya, kamu pikir kamu siapa hah?” cercauannya kian membuatku nelangsa.
“Yan-yan anak ku, tapi setiap kali dia sedih, dia senang, dia selalu datang padamu, bukan padaku, ibu kandungnya, apa kamu tahu aku setengah mati menahan rasa cemburu!” aku tidak ingin melihatmu lagi malam ini, pergi..aku lelah, aku mau sendiri!” suaranya melemah, sempat kutangkap matanya mengeluarkan bening, Janice menangis, aku baru melihatnya malam ini.
Semuanya berubah, aku tidak lagi menemukan kedamaian dirumah ini. Siang hari si nenek datang dengan membawa berjibun aturan baru di rumah, tidak boleh menidurkan Yen-yen, tidak boleh nonton VCD bersama, tidak boleh bermain-main bersama, tidak boleh duduk di sofa atau tempat tidur, tidak boleh makan dimeja yang sama, semua aturan itu hanya untuk mengisolasi aku dari Yan-yan. Apapun yang aku lakukan, tidak pernah lepas dari pengawasannya. Lalu malam hari, ketika Janice pulang, dia mulai komplen banyak hal, makanan yang tidak enak, padahal sebelumnya dia tidak pernah mencela masakanku, baju yang disetrika kurang rapi, lalu rumah yang kurang bersih dan masih banyak lagi. Aku masih bisa bertahan, dan akan tetap bertahan. Demi Yan-yan. Sakit hati ini bukanlah apa-apa dibandingkan kalau aku harus kehilangan Yan-yan. Biarlah siang hari neneknya yang memonopoli Yan-yan, Ibunya yang membuatku repot sepanjang malam, karena pada saatnya tidur, aku akan selalu bisa memeluknya, merasakan desah nafasnya, membelai halus rambut ikalnya, saat itu Yan-yan hanya milikku.
***
Suara lift terbuka membuyarkan lamunanku, tergesa kulihat Janice muncul dan menggedor pintu, aku bangkit dibelakangnya. Dia menoleh kearahku.
“Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Yan-yan, kamu tidak akan pernah aku maafkan!” desisnya marah
“ Ada apa dengan Yan-yan?” tanyaku panic.
“Mommy meneleponku, dia bilang Yan-yan tidak berhenti menangis, sampai sekarang, dan apa yang kamu lakukan disini?!!” tanya nya dengan nada kemarahan yang hampir memuncak, lanjutnya lagi
“kamu bilang kamu mencintai Yan-yan, lalu kenapa kamu tidak datang untuk membujuknya? Anak kecil nakal sudah biasa bukan? Kenapa kamu malah lari, dan menulikan telingamu dengan duduk bengong dimuka pintu?” blarrr..!! ada yang pecah dikedua mataku, seketika aku limbung, apa yang Ny. Chan jejalkan ke otak dan telinga Janice, aku meninggalkan Yan-yan?? Itu satu hal yang tidak akan pernah ku lakukan. Ada rasa nyeri tak tertahan kan di dadaku, seakan berjuta ton menghimptnya. Saat pintu terbuka, aku hanya mampu memandang Janice berlalri kedalam kamar, disusul Ny. Chan. Terdengar jeritan hiseris Janice.., lalu aku mendengar kepanikan. Ahhh.. dadaku semakin nyeri… tangan ku menggapai daun pintu, tak dapat kuraih, aku jatuh, lalu gelap.
***
“Ummi.. ummi… bangun ummi…” putih… silau mataku terbuka, pupil mataku membesar dan mengecil, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke mataku.
“Ummi.. kak.. ummi sudah bangunn..” suara itu..?? aku mengenalnya..! aku menoleh, mencari disekelilingku sumber suara itu. sebuah tangan mungil menyentuh halus punggung tanganku, seraut wajah muncul dalam putihnya pandangan mata, seraut wajah polos seorang anak yang usianya kutaksir 8 tahun, lalu muncul seorang lagi, dia lebih tua dari yang pertama, 2 tahun lebih tua kukira. Ada yang bergemuruh dalam dadaku, wajah kedua anak itu, aku melihat bayangan wajahku dan wajah Mas Andi, suamiku pada kedua anak itu. sesak sekali kurasakan dada ini, seakan semua rasa didalamnya berlomba ingin meloncat keluar. Perlahan ku ulurkan tangan kanan menggapai wajah anak yang terkecil, dia tersenyum, senyum itu senyum ku, lalu tangan kiri ku menggapai wajah anak yang satunya lagi, ah matanya, hidungnya, mirip sekali dengan Mas Andi.
“Ummi.. akhirnya ummi datang juga, aku dan Nayla sudah lama menanti ummi pulang..” Anak yang besar itu berkata sambil memelukku erat, aku mengenal harum tubuhnya, hangat nafasnya.. tapi dimana? siapa? Nayla… tadi dia menyebutkan Nayla, bukan kah nama itu yang akan aku berikan kepada calon bayi keduaku, sebelum akhirnya gugur, karena kandunganku lemah.., sama dengan nasib kandunganku yang pertama, aku tersentak…,
“Ummi, aku Mentari, dan ini adik Nayla, anak-anak ummi…” kata si sulung menjelaskan. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaanku, buah hatiku, belahan jiwaku, sudah sebesar inikah?? Ya Tuhaan… tak ada kata yang bisa melukiskannya, kupeluk erat keduanya, rindu yang bertahun-tahun kupikul bersama penderitaan yang maha berat karena harus kehilangan keduanya tanpa sempat kutimang, pupus sudah
“ Mentari ummi… Nayla cinta ummi…” ratapku disela isak yang kian menyesakkan dada, kali ini sesak itu sungguh kebahagian yang tiada terhingga.
“Apa yang terjadi selama ini, siapa yang menjaga kalian?” tanya ke sambil tak henti kuciumi keduanya
“Do’a ummi sepanjang siang dan malam yang menjaga kami, yang membuat kami tumbuh seperti sekarang ini.” Mentari tersenyum menjelaskan
“ ayo mi, kita pergi …” Nayla menuntunku disamping kanan dan Mentari disisi yang lainnya.
“ Ummiiiii… jangan pergiii..” satu suara menghentikan langkah ku
“Yan-yan…!” seruku tertahan. Yan-yan berlari menghambur kepelukanku. Tangisnya pecah seketika.
“Ummi, jangan pergi, aku tidak suka nenek, dia memberiku obat agar aku berhenti nangis, dia memaksaku, obatnya banyak, aku takuuut…, ummiii…” aku ikut menangis, Yan-yan putri ku tersayang, walau bukan darah dagingku sendiri, sakit sekali melihatnya menangis ketakutan. Tiba-tiba sekelilingku berubah menjadi sebuah ruangan gawat daruarat sebuah rumah sakit, aku melihat dua ranjang terpisahkan oleh sehelai kain gordeng, aku melihat Yan-yan terbaring lemah dengan selang terpasang dibebrapa bagian tubuhnya, nafasnya lemah, sementara aku melihat diriku sendiri ranjang sampingnya, aku melihat dokter dan beberapa perawat mencoba memicu detak jantungku dengan alat pemicu jantung. Yan-yan masih terisak dipelukanku, Mentari dan Nayla tegak disampingku
“Ummi, Yan-yan belum bisa ikut kita..” Mentari berbisik ditelingaku. Kulihat Janice berlinang air mata sambil memegang tangan Yan-yan, dan Ny. Chan terduduk pucat disebuah kursi. Aku mengerti sekarang, kini saatnya aku mengasuh kedua putri kandungku dan Yan-yan harus kembali pada Janice. Perlahan kuturunkan Yan-yan, aku belutut memeluknya sesaat, “Yan-yan, ummi harus pergi, dan ummi tidak bisa membawa Yan-yan sekarang..” Yan-yan mulai akan menangis lagi, cepat-cepat kutahan tangis nya
“Yan-yan sayang mommy?” tanyaku, dia mengangguk
“Kalo Yan-yan sayang mommy, kamu harus kembali sayang, ummi janji, ummi akan selalu menjagamu, ummi tidak akan pergi jauh.” Bujuk ku.
“Tapi nenek jahat, dan mommy ga pernah ada dirumah, kalo ummi pergi, aku ga punya teman, ga ada yang jaga aku, ga ada yang meluk aku , ga ada yang bacain aku dongen lagi..” rengeknya manja
“lihat disana.. lihat nenek sedih sekali melihatmu sakit, dia tidak sengaja menyakitimu, dia sangat menyesal, darling.., dia tidak akan menyakitimu lagi!” kataku meyakinkannya.
“mommy juga akan meluangkan banyak waktu untukmu, selama ini mommy bekerja keras juga hanya untuk kamu, kamu ingat.. anak baik juga harus menjaga orang-orang yang menyanyanginya bukan?” mata Yan-yan membualat, ciri khasnya kalo dia mengerti apa yang disampaikan orang padanya. Aku menarik nafas lega. Kulirik Mentari dan Nayla, mereka tersenyum penuh arti padaku.
“ Nah, sekarang Yan-yan sentuh tangan mommy, bilang kalau Yan-yan sayang padanya..” Yan-yan menurut, diberjalan kearah ranjangnya, tiba-tiba dia membalikan badan
“ Ummi.. aku mencintai ummi, sama seperti aku mencintai mommy..” katanya sambil melambaikan tangan “ aku tahu sweetheart.. ummi juga mencintaimu, ummi akan selalu menjagamu!” senyumnya mengembang. Suara bip panjang dari alat elektonik dan garis panjang lurus membuka sebuah cahaya dilangit.
“ Ummi saatnya kita pergi..” Mentari dan Nayla berkata bersamaan, aku tersenyum, “ayoo, ummi sudah siap sayang..” kami melangkah bersama, hangatnya matahari terasa dikulitku, menyambut tiga sosok yang telah terpisahkan ruang dan waktu bertahun-tahun. Tuhan telah menjawab semua resah dan rinduku…
****
Mid level, 7 Oktober 2009
No comments:
Post a Comment